Selasa, 09 Juni 2015

Testimony FLC Oenasi







In/Seandainya diberikan pilihan, tentu Marlyn Maneis tidak mau hidup dalam kekurangan seperti yang dialaminya saat ini. Berbagai masalah bisa saja muncul tanpa ada jalan keluar. Akibat kekurangan ini, ayahnya, Simon Maneis, terpaksa menerima takdirnya ketika dinyatakan dirinya mengalami kelumpuhan hingga akhir hayatnya. 

Merupakan sebuah pukulan yang berat bagi keluarga Marlyn ketika empat tahun yang lalu Pak Simon divonis menderita penyakit lumpuh pada kakinya. Sejak saat itu, Ibu Margarita yang menanggung semua pekerjaan untuk dapat terus menghidupi anak-anaknya dan membeli obat-obatan untuk suaminya. Ibu Margarita tidak hanya bercocok tanam di rumahnya dan membawa hasilnya, yang berupa sayur-sayuran ke pasar, namun Ibu Margarita juga bersedia untuk menjadi pembantu rumah tangga dengan mencuci pakaian untuk bisa mendapatkan 1 kg beras untuk makan keluarganya selama beberapa hari. Ibu Margarita bahkan juga menjadi buruh tani di kebun orang lain. 

Karena pendapatan yang keluarga Marlyn terima menjadi lebih sedikit, mereka terpaksa pindah ke sebuah gubuk kecil yang hanya beratapkan gewang dan berdinding bambu; tidak ada kamar dan berlantaikan tanah.
Melihat penderitaan istri dan anak-anaknya akibat kelumpuhan yang dialaminya, Pak Simon semakin sering termenung sendirian dan menangis. Pak Simon sangat mengkuatirkan masa depan keluarganya. Karena kesedihan dan kekuatirannya, Pak Simon sering tidak bisa tidur di malam hari dan hal ini membuat kondisinya semakin lemah dan semakin menurun. Sehingga pada akhirnya di Sabtu yang mendung di desa Oenasi pada tanggal 26 Mei 2012, Pak Simon mengehmbuskan nafasnya yang terakhir. Bagi Ibu Margarita dan Marlyn serta adik-adiknya, kepergian ayah mereka bukanlah kehendak mereka. Mereka memilih agar suami dan ayah mereka bisa terus bersama dengan mereka, menjadi sehat dan menemani mereka sampai mereka tumbuh dewasa. Namun, kehendak Tuhan berkata lain dan mereka tidak bisa melakukan apapun selain berserah. 

Sejenak pikiran melintas di benak Marlyn, apakah dengan kepergian ayahnya untuk selamanya ia bisa tetap bersekolah dan mewujudkan impiannya? Ataukah ia harus melupakan semua itu dan menjalani hari-harinya dengan bekerja membantu ibu menghidupi adik-adiknya? Namun syukurlah, di Center YTP ia bisa tetap mengikuti bimbingan belajar gratis, mendapatkan asupan bergizi dan tetap bisa membantu ibunya. Bahkan Marlyn semakin giat belajar demi masa depannya. 

En/If he would have been given a choice, surely Marlyn Maneis didn’t want to live a poor life like he does now. Many problems may come without any solution. Because of this poverty, his father, Simon Maneis, had to accept his fate when he was declared lame till the end of his life.

It was a heavy trial for Marlyn’s family when four years ago Mr. Simon was diagnosed with paralysis on his foot. Since that time, Mrs. Margarita had to do all jobs just to raise their children and buy some medicine for her husband. Mrs. Margarita does not only do farming at her house and bring the vegetables to the local market, but she also does a housemaid job like washing clothes for 1 kg of rice to feed her family for few days. She even works as a farmer in other’s plantation.

Because the income the family got became less, they had to move to a small hut with gewang leaves as rooftop, unrolled bamboos as wall, no room inside and dirty floor.

Seeing the sufferings felt by his wife and children because of his paralysis, Mr. Simon often pondered his fate alone and cried. He was very worried about his family’s future. Because of his sadness and anxiety, Mr. Simon was often unable to sleep at night, making his condition weaker. And on a cloudy Saturday, May 26th, 2012 in Oenasi village he breathed his last breath. For Mrs. Margarita and Marlyn and his younger siblings, it was not their will that their father passed by. They would chose that the husband as well as father could be with them, healthy and together with them until they had grown up. But God determined the opposite and they could do nothing but surrendered.

A thought crossed his mind for a moment, because of his father’s death, would he still go to school and make his dream come true? Or, would he have to forget it all and spend his days working and helping his mother raise his younger siblings? But, thank God. At YTP’s Center he still can take part in free tutorials, get nutritious intake and help his mother. Even Marlyn studies more diligently for his future.

Senin, 01 Juni 2015

FLC Ratahan







In/Berangkat dengan rasa percaya akan janji-janji manis yang tidak pernah terbukti, 99 penduduk bersama keluarga meninggalkan tanah kelahiran mereka di pulau Jawa dan Nusa Tenggara Timur menuju ke daerah transmigran di Ratahan, Sulawesi Utara. Niat untuk  memperbaiki hidup malah berubah seratus delapan puluh derajat. Keterpurukanlah yang justru mereka alami dan rasakan. Semua harapan dan mimpi mereka tergerus oleh kenyataan di depan mata.

Mereka hanya bisa tertegun menyaksikan bidang-bidang tanah tanpa bangunan yang disediakan bagi mereka. Kecewa dan kesal berkecamuk dalam hati. Namun apa hendak dikata, nasi telah menjadi bubur. Rasa ingin pulang kembali ke kampung halaman tidak pernah terwujud karena ketiadaan dana. Akhirnya untuk dapat bertahan hidup, mereka mulai menggarap lahan-lahan yang awalnya mereka kira tidak ada pemiliknya. Dan merekapun harus rela meninggalkan lahan yang telah mereka tanami ketika pemiliknya menyita lahan tersebut.

Mereka hanya mendapat sebuah rumah papan tanpa isi dan tanpa fasilitas apa-apa, termasuk listrik dan air. Janji-janji pemberian fasilitas hanya tinggal berupa janji-janji yang tidak pernah menjadi sebuah kenyataan. Tidak ada lahan untuk bercocok tanam. Hanya pekarangan kecil yang tersisa. Pekarangan kecil yang sama itulah yang menjadi tumpuan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Nasaret, itulah nama salah satu dusun di daerah Ratahan, Sulawesi Utara yang menjadi tujuan para transmigran ini. Mereka terpaksa menggarap lahan kecil yang ada di sekitar rumah mereka untuk ditanami sayuran untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak adanya infrastruktur yang memadai membuat desa ini menjadi terisolir.

Oleh sebab itu Yayasan Tangan Harapan hadir untuk membantu masyarakat setempat dengan menyediakan mesin cetak batako dan bibit-bibit pertanian. Saat ini Tangan Pengharapan memulai dengan pergerakan feeding and learning center untuk membantu anak-anak menjadi generasi yang tahu kebenaran dan mau untuk tetap semangat dan giat dalam belajar.

En/Believing and trusting in sweet promises that were never proven, 99 families left their homeland in Java and East Nusa Tenggara and headed to the area in Ratahan, North Sulawesi. Their determination to improve their lives turned upside down. It is deterioration that they actually experience and feel. All their hopes and dreams are eroded by reality in front of their eyes.

They can only be stunned to see the acres of land without any buildings provided for them. Disappointed and annoyed raged inwardly. But they can’t say nothing, all is too late. Their desire to return to their hometown never comes true due to lack of funds. Finally, in order to survive, they begin to work on land that originally they thought has no owner. And they must be willing to leave the land they had planted when the owner of the confiscated land.

They just got an empty house without any facilities, including electricity and water. The promise they would get some facilities remains a promise that never comes true. No land for cultivation. Only a small lawn left. It is the same small lawn that  become their hope to meet their daily needs.

Nasaret is the name of one of the hamlets in the area of Ratahan, North Sulawesi, which became the destination of these migrants. They had to cultivate the small around the house, growing vegetables for their daily needs. The absence of adequate infrastructure make this village became isolated.

For that reason Yayasan Tangan Pengharapan exists to help local communities by providing lock brick molding machine and agricultural seeds. Currently Tangan Pengharapan has started with feeding and learning center to help local children become the generation who know the truth and want to remain energetic and active in learning.




Senin, 25 Mei 2015

Donasi Untuk Anak Pedalaman








In/Bantuan Donasi Untuk Anak Pedalaman

Ketika di kota besar dan segala sesuatu mudah didapatkan maka adalah wajar apabila orangtua yang berkategori “mampu” secara finasial  dapat membelikan jam tangan, pakaian, sepatu atau tas kepada anaknya. Namun hal ini bertolak belakang dan merupakan hal yang menyedihkan di daerah- daerah pedalaman yang belum maju. Jangankan berbicara tentang memakai jam tangan, pakaian baru, sepatu atau tas, memimpikan untuk mendapatkannya saja tidak ada dalam benak mereka. Apabila orang tua mereka memiliki uang, maka mereka lebih berpikir untuk membeli kebutuhan pokok seperti makanan dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Adalah sebuah pemandangan yang lazim apabila anak-anak miskin baik di kota ataupun pedalaman menggunakan pakaian seadanya saja untuk aktivitas harian mereka. Seringkali kita bisa melihat pakaian mereka sudah tidak layak pakai, compang camping serta lusuh.

Melalui BIG W, anak-anak yang ada di Children Rescue Home Jakarta, anak-anak pedalaman Jawa Tengah, tepatnya di desa Pepe dan Kaliceret serta anak-anak di pedalaman NTT mendapatkan bantuan jam tangan.

Kali ini, donasi untuk anak-anak ini ternyata bukan hanya jam tangan, namun juga sepatu, tas, topi serta baju layak pakai. Dengan donasi tersebut anak-anak bisa mengetahui waktu dan berpenampilan lebih baik dari sebelumnya.

En/Donation For Rural Children

When everything is easy to get in the big city and it is understandable if rich parents can afford buying watches, clothes, shoes or bags to the children. But on the other hand, it is a sad thing in remote areas that have not been developed. Let alone talking about wearing watches, new clothes, shoes or bags, even dreaming to get them all does not exist in their minds. If their parents have money, then they are thinking of buying basic necessities such as food and other daily needs.

It is a common sight when poor children either in the city or in the remote areas wearing ordinary clothes to do their daily activities. Often we can see the clothes they wear are not worth wearing, ragged and worn-out.

Through BIG W, children at “Children Rescue Home” in Jakarta and at Feeding and Learning Center in Central Java, precisely in the village of Pepe and Kaliceret, and rural children in ENT received watches as donation.

This time, donation to these children was not only watches, but also shoes, bags, hats and wearable clothes. With the donation, the children can look at the clock time and look better than ever.

Senin, 18 Mei 2015

PKBM Kaliceret

PKBM Kaliceret







In/Siang itu anak-anak SD antusias untuk belajar di FLC Kaliceret setelah pulang sekolah. Namun karena kurangnya tenaga pengajar, akhirnya mereka harus belajar dengan kelas yang dicampur-campur. 1 siswa yang masih duduk di bangku SMP dan 1 siswa yang baru lulus SMP diberdayakan menjadi guru untuk membantu Ibu Anni, koordinator Jawa Tengah, untuk mengajar anak-anak di dusun Kaliceret.

Belum lagi teknik atau cara mengajar yang sangat terbatas yang Tangan Pengharapan lihat di lapangan. Setelah mereka mengajar anak-anak SD, lalu kedua guru yang masih belia ini mengajar anak-anak PAUD di sore harinya. Guru-guru di dusun Kaliceret ini mengajar tanpa jadwal belajar, buku pegangan. Seperti tanpa arah mau belajar apa. Target belajarnya apa, dan sebagainya. Mereka pun belum tahu membuat ‘lesson plan’ atau rencana pembelajaran. Malam harinya Tangan Pengharapan mulai dijadwalkan untuk mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak SMP. Sangat menyedihkan bagi Tangan Pengharapan bahwa di dusun Kaliceret anak-anak SMP di FLC Kaliceret ini tidak mempunyai guru untuk mengajar mereka.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh anak-anak ini untuk menimba ilmu dengan belajar bahasa Inggis. Anak-anak belajar dengan antusias. Teknik mengajar dengan metode ‘action-oriented approach’ membuat anak-anak bisa mempraktekkan apa yang baru mereka pelajari.

Sungguh kebutuhan akan guru sangat krusial di berbagai tempat terpencil di Indonesia. Pelatihan guru-guru lokal akan menjadi tantangan tersendiri bagi terciptanya kualitas belajar mengajar yang lebih baik di kemudian hari.

En/That afternoon, Elementary School children were enthusiastically learning at FLC in Kaliceret. Due to lack of teachers, they had to learn in mixed classes. One of the teachers is still sitting at Junior High School. Another one has recently graduated from Junior High School. They are all empowered as teachers to help Mrs. Anni, the coordinator of Central Java, to teach children in Kaliceret hamlet. 

Not to mention the teaching technique that Tangan Pengharapan saw in the field. It was still very limited. Having taught elementary school children then these two young teachers continued teaching early age children in the afternoon. Teachers in Kaliceret hamlet teach without learning schedules and handbooks. Without any clear direction of what things to learn, they seemed to have no learning targets, and so on. They also do not know how to design lesson plans. The night following, Tangan Pengharapan was scheduled to teach English to Junior High School children. It is sad to Tangan Pengharapan that in Kaliceret hamlet, Junior High School children in FLC Kaliceret do not have teacher to educate them.

This opportunity was not wasted by these children to get knowledge by learning English. Children learned with enthusiasm. Teaching techniques taught using “action-oriented” approach made them able to practice what they had just learned.

Indeed, the need for teachers is very crucial in many remote places in Indonesia. Training local teachers will be a challenge for the making of a better quality learning in the future.