Jumat, 13 Maret 2015

Testimony FLC Serui







in/Matanya menatap lurus tajam kala itu, dan tanpa disadari air matanya mengalir deras di pipinya. Sementara itu di hadapannya terbujur kaku sesosok wanita terkulai lemah tertindih sebatang pohon yang patah di sambar petir beberapa waktu sebelumnya. Tanpa bisa berbuat apa-apa, dengan lengan kecilnya dia hanya sanggup memeluk kakeknya yang kala itu di sampingnya. Dari mulutnya terdengar suara lirih dan menyayat, “Mama....mama…”

Mario itulah nama panggilan anak ini, besar dengan kakek dan neneknya. Sebuah realita pahit harus dialami oleh seorang anak kecil yang dibesarkan bukan oleh kedua orang tua kandungnya, namun oleh kakek dan neneknya . Seperti yang dikisahkan di awal cerita, ibunya meregang nyawa akibat tertimpa pohon beberapa waktu silam. Ayahnya yang depresi berat semenjak kematian istrinya akhirnya memilih untuk menikah lagi dengan wanita lain. Sejak saat itu, ayah Mario menghilang bak di telan bumi.

Maka sejak saat itu lengkaplah kesedihan Mario. Meskipun setiap hari Mario ditemani kakek dan neneknya, tetapi Mario ingat kedua orangtuanya yang tidak bisa digantikan. Namun puji Tuhan, sejak Mario bergabung dengan FLC Tangan Pengharapan di Serui, Papua, sedikit demi sedikit dia bisa memiliki semangat kembali.

en/His eyes stared sharply at the time, and without his knowing, tears flowing down on his cheeks. Meanwhile in front of him a weak woman laid slumped motionless, hit by a broken tree snapped by lightning some time earlier. Without being able to do anything else, with his little arm he hugged his grandfather who was standing at his side then. From his mouth came out a soft and rending voice, "Mama .... mama ..."

Mario was the name of this child, being raised by with his grandparents. A bitter reality had to be experienced by a child raised not by both his biological parents, but by his grandparents. As told in the beginning of the story, his mother died of a falling tree some time ago. His severely depressed father finally chose to get married again with another woman. Since that time, Mario's father disappeared as if he had been swallowed by the earth.

Since then, Mario has become completely sad. Although every day Mario’s grandparents accompanied him, but the remembrance of his parents cannot possibly be replaced. But thank God, since Mario joined Tangan Pengharapan’s FLC in Serui, Papua, gradually he gets his fervency back.



Selasa, 03 Maret 2015

Testimony FLC Oeleu







in/Beberapa bulan yang lalu dirasakan Tangan Pengharapan Indonesia saat membagikan sepati di FLC Oeleu di mana seorang anak perempuan berusia 8 tahun mendapatkan sepasang sepatu namun tidak bisa memakai kedua sepatu itu karena ia tidak memiliki kaki kanan. Rina beraktifitas dengan cara merayap dan ini bukan pemandangan yang menyenangkan untuk dilihat.
Berbagai pertanyaan tak terjawab bergemuruh saat tim Tangan Pengharapan pulang. Adakah cara yang bisa ditempuh agar Rina dapat berjalan?
Dengan bantuan beberaa mitra seperti Kick Andy dan Bank Mandiri, maka jalan keluar didapatkan setelah beberapa saat berlalu.
Penyerahan kaki palsu dilakukan di desa Oeleu dalam kesederhanaan alam desa dan suasana haru serta derai air mata bahagia dari ayah dan ibu Rina. “Saya senang ada yang perhatikan anak saya,” ujar ibu dari Rina sambil mengusap air mata bahagia.
Kini meskipun masih tertatih, Rina Telnoni mengalami suka cita yang begitu besar saat melangkah dengan lebih pasti dalam menggapai kesempatan untuk hidup lebih baik.


en/It was felt it by Tangan Pengharapan Indonesia when distributing shoes at FLC Oeleu where a young girl aged 8 got a pair of shoes yet she couldn’t wear them since she doesn’t have right foot. Rina does all of her activities by crawling and it’s not a pleasant sight to behold.
Various remained unanswered questions rumbled when Tangan Pengharapan team was going home. Could there a way be taken for Rina to be able to walk?
With the help of some partners such as Kick Andy and Mandiri Bank, so a way out was finally taken after a while.
Two months passed after the mold making of the artificial limbs delivered to Jakarta, and on November 2014, the long anticipated package, the artificial limbs finally arrived in Kupang and was taken straightaway by the staff of Tangan Pengharapan.
Currently, even though she is still limping, Rina Telnoni experienced a great joy when stepping with more definite step in achieving a better chance of living.

Jumat, 13 Februari 2015

Coaching Clinic Untuk U-16








in/Untuk mengambil sebuah langkah maju dalam mengembangkan prestasi generasi muda melalui olahraga sepak bola dan menindak lanjuti  kompetisi sepak bola U-16, beberapa waktu silam Tangan Pengharapan mengadakan Soccer Coaching Clinic for U-16. Dengan senang hati tim pesepak bola tamu dari Brazil melatih anak-anak di FLC Tangan Pengharapan selama 2 hari.

Ini merupakan upaya untuk menjadikan generasi ini generasi tangguh yang dapat mengharumkan nama daerah serta bangsa.

en/To take a further step in promoting young generations achievement through football sport and carry out a follow up action for Football Competition U-16, Tangan Pengharapan held Soccer Coaching Clinic for U-16 football team some time ago. Brazilian football team coached FLC kids for two days with pleasure.

We did it all for the sake of building this generation, a tough generation which can advance both the region and the nation.

Video Youtube Ministry Profile 2015




Senin, 02 Februari 2015

Testimony Jeslin FLC Mauhau







in/Jeslin, siswi kelas 4 SD ini selalu membawa karung dekil yang diisi dengan barang plastik bekas yang dapat ia jual untuk makan keluarganya. Karung itu sepertinya menjadi benteng rapuh untuk berlindung dari rasa lapar. Bagi sebagian orang, anak-anak seperti Jeslin ibarat jamur yang tumbuh di pepohonan. Ada pula yang menganggap mereka sebagai tunas yang sia-sia. 

Namun sesungguhnya mereka adalah anak-anak bangsa. Mereka punya hak yang sama, tapi tak berdaya, punya masa depan yang cerah, tapi tak bisa meraihnya. uluran tangan dan kasih kita sanggup untuk dapat menolong anak-anak seperti Jeslin. Kini Jeslin ada bersama-sama kami di Feeding & Learning Center Waingapu.


en/Jeslin, the 4th grader always carries dirty bag filled with sellable used plastic stuffs to feed her family. Dirty bag Jeslin always carries seems to be a friable fort that protects her from hunger. For some people, kids like Jeslin are like a fungus that grows on trees. Some think of them as useless buds. 

But in fact, they belong to this nation. They have the same right, but they are hopeless, a bright future, but can’t reach it. With love and compassion we can help kids like Jeslin. Now Jeslin is with us in Feeding & Learning Center Waingapu.