Kamis, 04 September 2014

Sekarang Beta Su Jelas Melihat Lagi

http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/


in/Katarak telah menjadi momok yang menakutkan bagi banyak orang yang mengalaminya. Meski sekarang telah ditemukan banyak cara untuk mengobati katarak, namun banyak yang masih dilanda rasa takut akan kemungkinan adanya resiko yang dapat ditimbulkannya meskipun sebenarnya hal itu nyaris tidak terjadi. Hal ini tidaklah mengherankan karena mata sendiri adalah organ yang sangat rentan dan vital bagi manusia. Di samping itu ketiadaan dana membuat mereka mengurungkan niat untuk melakukan operasi, dan ini merupakan faktor utama yang menjadi penghalang bagi banyak orang di era modern ini, terutama mereka yang berpenghasilan di bawah rata-rata untuk melakukan operasi katarak.

Ibu Natboki Taebenu, 45, kini dengan penuh semangat kembali mengerjakan apa yang menjadi kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Operasi katarak gratis yang telah dijalaninya telah memulihkan penglihatannya seperti semula.

Hal ini tidak diduganya sama sekali, mengingat kehidupannya yang berkekurangan serta penghasilan suaminya yang tidak menentu sebagai seorang tani, belum lagi  ditambah keperluan anak-anaknya yang berjumlah tiga orang.

Awalnya ia tidak menghiraukan penglihatannya yang memudar. Ia menganggap hal ini biasa-biasa saja, tetapi seiring berjalannya waktu, penglihatannya itu makin menyusahkannya terutama di siang hari, saat sinar matahari terlalu menyilaukan baginya sehingga ia sering harus masuk dan menghentikan aktifitasnya di luar rumah. Namun, di dalam rumahnya yang sangat sederhana itupun, di mana tidak ada penerangan yang cukup, dirinya juga tidak mampu melihat dengan baik.

Sudah tiga tahun ia mengalami situasi seperti ini, dan akhirnya kini ia hanya bisa pasrah dengan keadaannya. Ia tidak lagi bisa mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukannya. Anak-anaknya pun sering ‘harus’ memahami keadaan yang dialami ibu mereka saat mereka membutuhkannya untuk melakukan sesuatu seperti menyalakan api untuk memasak jagung, mengambil air, dan sebagainya.

“Su tiga tahun beta dapat katarak ini. Semua seperti bayang-bayang, tidak jelas. Apalagi kalau matahari bersinar terang, beta tidak dapat melihat,” kisahnya saat ditemui tim dari Tangan Pengharapan.

Tinggal di pedalaman di mana fasilitas medis tidak memadai memang merupakan hal yang sulit. Di samping itu, rendahnya pendapatan penduduk membuat mereka seperti kehilangan harapan untuk sembuh. Tidak heran, di samping gizi buruk, banyak penduduk yang menderita katarak namun harus melupakan niat mereka untuk berobat. Sekalipun jika mereka memiliki uang, tentu mereka akan menggunakannya untuk hal-hal lain yang dirasa lebih mendesak.

Melihat kebutuhan itu, Yayasan Tangan Pengharapan datang dan memberikan bantuan bagi para penderita katarak untuk menjalani pemeriksaan hingga operasi katarak secara cuma-cuma. Upaya ini dilakukan untuk menolong masyarakat yang tidak mampu serta mengembalikan harapan dan semangat mereka yang sempat hilang akibat gangguan penglihatan. Diharapkan dengan operasi katarak gratis ini, mereka dapat kembali menjalani hidup dengan penuh semangat dan tentunya harapan baru.

“Sekarang beta su bisa melihat dan su bisa bekerja lagi. Terima kasih Tangan Pengharapan karena telah bantu beta,” ujarnya sambil tersenyum kepada tim dari Tangan Pengharapan.



en/Cataract has become a horrifying specter to those who once suffered from it. Although today many ways to cure cataract are found, many people are still afraid of the risk they might face although it actually never happens. It is not astonishing because eye is man’s susceptible vital organ. Besides that, lack of fund causes them refuse cataract surgery, and it becomes the main hindrance for many people in this modern era, especially for those with meager income.

Mrs. Natboki Taebenu, 45, do her duties as a housewife eagerly. The free cataract surgery she underwent has returned her sight.

She never expected such thing to happen, knowing that her life and his husband income as a farmer are insufficient, and in addition to that, she has to meet the needs of her 3 children.

Initially, she did not care about her blurry vision. She thought that was quite normal for a woman of her age. But as the time passed by, her blurred vision gave her more troubles, especially in the day time, when the sunlight was too bright for her to stay outside her home. She had to stop doing chores. But, inside her poor home where there was not enough light, she couldn’t see well either.

She has had this kind of situation for 3 years, and eventually she succumbed to her fate and condition. She no longer could do the chores she used to do. Even her children ‘had to’ understand her mother’s physical condition when they needed her to do something for them like lighting the fire to cook boiled corn, collect some water, and so on.

“I have had this cataract for 3 years. Everything seems like shadows, very unclear. When the sun shines so bright, I can’t see clearly,” she said when Tangan Pengharapan’s team met her.

Living in remote areas without any proper medical facility is hard to think. Besides, the local people’s low income makes them lost their hope of getting well. So no wonder many people with cataract have to forget their wish to get medical tyreatment. Even they have some money, they would use it for more other urgent things.

Oberving thwir needs, Yayasan Tangan Pengharaan comes and helps those with cataract to be examined for surgery at no cost. This kind of effort is done to help impoverished people get back their hope and eagerness that once were lost. After having the cataract surgery, hopefully they can live their lives eagerly with a new hope, of course.

“Now I can see and I can do my chores again. Thank you for helping me,” she said, smiling at Tangan Pengharapan’s team.

 Video Link Youtube Membantu Masa Depan Anak-anak Pedalaman Mentawai


Rabu, 20 Agustus 2014

Ajarkan kami main itu, Pak

<<<Show us how to play it, Sir>>>
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/


In/Pada zaman sekarang bila seseorang tidak mengerti komputer akan disebut sebagai orang yang  ketinggalan zaman, kuno dan gaptek (gagap teknologi). Sementara itu di bidang pekerjaan orang semakin dituntut untuk mengerti dan bisa menggunakan komputer karena komputer merupakan sarana untuk mempermudah dan mempercepat proses pekerjaan.

Sore itu ketika saya sedang mengoperasikan computer sambil menikmati segelas kopi diruang tamu kediaman saya, saya didatangi beberapa orang anak. Mereka tampak malu-malu ketika saya persilakan masuk. Mereka masih duduk di bangku sekolah  SD dan SMP.  Gedung sekolah tempat mereka belajar letaknya tidak   jauh dari tempat tinggal saya.

“Ada apa?,” tanya saya kepada mereka. Bukannya mejawab pertanyaan saya, mereka malah saling memandang. Mereka seolah-olah tidak mau membuka mulut mereka untuk menjawab pertanyaan saya. Setelah hening beberapa saat, seorang anak perempuan yang berusia sekitar 15 tahun memberanikan diri untuk menjawab. “Bang, bisa ajarkan kami main itu, kah?” katanya sambil menunjuk laptop yang ada di depan saya. Anak tersebut ternyata bernama Delpianti, siswi kelas 3 di SMPN 3 Banyuke Hulu.

Wajah mereka mengesankan harapan yang besar. Sepertinya mereka ingin saya menyetujui permintaan mereka. Saya tersenyum sambil memandang wajah mereka yang tampak penasaran. Mereka tampak senang ketika saya menjawab bisa. Karena saya hanya punya satu buah laptop, jadi saya jelaskan bahwa saya akan ajarkan satu orang dulu dan nanti yang sudah belajar dan bisa harus mengajarkan temannya yang lain. Mereka setuju dan akhirnya Delpianti yang mendapat kesempatan pertama untuk belajar computer.

Delpianti atau biasa dipanggil Tetet adalah anak bungsu dari 6 bersaudara putri pasangan Bpk. Dasut dan Ibu Salia (alm). Sejak berusia 3 tahun Tetet sudah ditinggal oleh ibunya yang meninggal dunia akibat sakit. Sebelum tinggal menetap bersama Bapak dan saudaranya yang lain, sewaktu kecil Tetet tinggal bersama kakak tertuanya yang sudah berkeluarga. Tetet sempat pula berhenti sekolah selama satu tahun karena tidak punya biaya.

Dalam belajar mengoperasikan computer, Tetet termasuk anak yang cepat memahami materi yang diajarkan. Meski kegiatan belajarnya sempat terhenti karena laptop saya rusak, namun Tetet tetap bersemangat mempelajari teori computer sambil menunggu laptop saya selesai diperbaiki.

Beberapa bulan lalu Yayasan Tangan Pengharapan mengunjungi tempat Education and Learning Center YTP di Desa Kampet, Kalimantan Barat untuk melihat proses berjalannya kegiatan di FLC. Melihat bahwa anak-anak di pedalamanpun butuh wawasan yang luas untuk kengenal dunia di luar serta agar dapat mengikuti perkembangan teknologi, maka Yayasan Tangan Pengharapan memberikan bantuan Laptop sebanyak 3 unit. Hal ini tentunya sangat membantu agar ada semakin banyak anak-anak yang bisa mengoperasikan computer sehingga banyak penduduk Desa Kampet kelak tidak lagi ketinggalan jaman, kuno dan gaptek. P.Rolianto- Kalbar



En/Today if someone doesn’t know how to operate a computer set, he surely will be called an old fashioned, outdated and technologically illiterate. And in marketplace, people are demanded to be able to use and operate the computer set because it is a mean to make job much easier and faster.


That afternoon when I was using my portable personal computer and drinking a cup of coffee in my living room, few children came to me. They looked shy when I welcomed them into my home. They are elementary and junior high school students. The school building where they study is situated not far from my home. 


“Is there anything I can help?” I began to ask them. Instead of giving me and answer, they just looked at each other. It appeared they would not open their mouth and answer the questioned I was asking. After few moments of silence, a girl aged around 15 took a step forward and began to ask me, “Bang (brother), would you show us how to play it?” she asked, pointing her finger at my portable personal computer on my desk right in front of me. The gild was Deplianti, a ninth grader at SMPN 3 Banyuke Hulu.


Hope was in their faces. It appeared to me that they need me to say yes to their want. I smiled when staring at their curious faces. Soon, they were filled with happiness when I said yes. But because I only had one portable personal computer, then I explained to them I was going to teach one of them and then she/he had to teach other kids. And they agreed and Delpianti got the first chance to learn how to use the computer.

Delpianti or Tetet is the latest of 6 siblings to Mr. Dasut and Mrs. Salia (deceased). Her mother died of serious illness when she was 3. Prior to living with her father and her other sibling, Tetet used to live with her eldest sibling who has a family of her own. Tete, once had to drop out of school for a year because her eldest sibling couldn’t afford to pay her school fee. 

In learning how to operate the computer, Tetet is a fast learner. Though her learning activity was stopped once due to my portable personal computer was failed, Tetet was eager to learn the theories, waiting for my portable computer to be repaied.

Few months ago, Yayasan Tangan Pengharapan made a visit to its Education and Learning Center in Kampet village, west Kalimantan to see FLC activities there. Knowing that children in rural areas also need broad insight in order to know  the outer world and follow the technological development, Yayasan Tangan Pengharapan, then, gave 3 units of portable personal computers. This effort is considered helpful that more children know how to use and operate computers. As a result, Kampet villagers will not be old fashioned, outdated and technologically illiterate any longer.
P.Rolianto- Kalbar

Link Youtube Panggilan Hati Untuk Berbagi (She Can You Can-Trans7):