Kamis, 10 Juli 2014

After 69 Of Being Independent, Halmahera Can Call

http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/


in/Ngoi to Hanangoau ai dadiou totelepono aingoaoo o Manado - Saya senang bisa menelpon ke anak saya di Manado – demikian ungkapan bahagia seorang penduduk lokal.

Pernahkah saat anda sekedar ingin menelpon keluarga, tetapi terhambat karena di area saat anda berada ketika itu tidak terjangkau signal? Apa anda bisa membayangkan hal itu terjadi dengan diri anda?

Atau juga ketika anda harus berbicara dengan kekasih anda namun lagi-lagi anda tidak bisa melakukannya karena terhambat oleh signal yang minim? Apa yang anda pikirkan ketika anda mengalami hal tersebut?

Pendapat anda pasti kebanyakan akan sama dengan saya, ketika hal-hal diatas  terjadi dengan diri anda.  Ada beberapa dari diri anda akan merasakan kegelisahan dan ketidak nyamanan, atau beberapa dari anda akan menyimpulkan hal tersebut sungguh mengesalkan. Ketika hal itu terjadi, tidak menutup kemungkinan akan menghadirkan pikiran-pikiran negatif. Bahkan parahnya komunikasi yang buruk dengan lawan komunikasi anda mungkin akan timbul.

Di era modern saat ini khususnya bagi anda yang tinggal di daerah perkotaan adalah sebuah hal yang lumrah apabila seorang memiliki ponsel. Komunikasi melalui ponsel atau alat komunikasi lainnya yang mengandalkan signal bukan lagi menjadi yang aneh. Ini bahkan bisa jadi kebutuhan pokok.

Hal ini tidak berbeda dengan yang dialami masyarakat Halmahera di pedalaman Kao Barat yang saat ini Yayasan Tangan Pengharapan layani. Adalah sebuah hal yang luar biasa bagi mereka untuk bisa sekedar bisa mengirim sms atau menelpon sanak saudara mereka yang berada di luar daerah atau di luar pulau.  Itu dikarenakan di daerah Kao Barat Pedalaman tidak ada signal pemancar komunikasi yang aktif. Untuk menelpon atau sekedar mengirim sms mereka harus mendaki gunung dan melewati sungai terlebih dahulu untuk mendapatkan signal.

Seringkali hal yang miris terjadi di saat ada peristiwa yang mendesak atau orang yang membutuhkan penanganan cepat gagal mendapatkannya karena masalah komunikasi. Contohnya ketika ada orang yang mengalami kecelakaan atau orang yang mengalami sakit parah yang membutuhkan penanganan cepat. Nyawa mereka bisa tidak tertolong hanya karena tidak adanya komunikasi.

Memahami betapa pentingnya signal untuk komunikasi di pedalaman Kao Barat Halmahera, akhirnya pihak Yayasan Tangan Pengharapan Halmahera beserta dengan staff pemerintah desa Soamaetek dan PLN Tobelo – Halmahera utara sepakat untuk pengadaan signal di Kao Barat. 

Kebetulan di salah satu desa Kao Barat tepatnya di desa Soamaetek ada sebuah tower mini pemancar signal bertenaga surya yang non aktif karena rusak. Yayasan Tangan Pengharapan Halmahera mensponsori pemasangan alat-alat baru untuk tower tersebut supaya bisa kembali aktif. Tower tersebut diperbaiki dan diaktifkan kembali dengan cara menyambungkan tenaga listrik PLN ke sumber energi tower sehingga tower bisa mengaktifkan signal pada alat komunikasi. Kekuatan tower ini cukup besar, terbukti bisa membantu sampai 5 desa di sekeliling tower. 

Saat ini, masyarakat sangat terbantu dengan aktifnya tower tersebut karena banyak di antara mereka yang memiliki sanak saudara yang jauh di luar daerah dan di luar pulau. Ada yang merantau mencari pekerjaan, ada yang kuliah baik di Tobelo, Ternate, Manado atau kota-kota lainnya di Indonesia.Theofilus



en/Ngoi to Hanangoau ai dadiou totelepono aingoaoo o Manado – I’m glad because I can call my son in Manado – a local villager said in a happy tone.

Does it ever happen to you when you want to call your family but you can’t because there is no signal in your place? Can you imagine such thing happen to you?

Or when you need to say some words to your beloved ones but you can’t because of the low signal? What do you think when such thing happens to you?

Your opinion likely will be the same with mine when things above happen to you. Some of you will feel anxiety and discomfort, or some of you will come to the conclusion that it is really frustrating. If it happens, there is a possibility negative thoughts will come. Even worse thing such as poor communication with the one you’re conversing may occur. 

In this modern era, especially for those of you living in towns or cities, it is a common thing to have a cell phone. Communication via mobile phones or other communication devices that rely on signals is no longer strange. Signal can be a basic need in communication. 

The people in west Kao, north Halmahera whom Yayasan Tangan Pengharapan serves, have the same experience. It is a wonderful thing for them to be able to just be able to send text messages or call their relatives outside the area or island. That is because in the inland of west Kao there is no active communication signal transmitter. To call or send a text messages they have to climb the mountain and cross the river to get a signal. 

Often sad thing happens when there is an urgent events or people who need rapid treatment can’t get it due to communication problems. For example, when someone is injured or has severe pain that requires fast handling they just can’t get the rescue. Their lives cannot be saved just because of lack of communication. 

Realizing how important signal for communication in the interior of west Halmahera Kao is, finally Yayasan Tangan Pengharapan in Halmahera along with government staff and PLN officers in Tobelo and Soamaetek regional government agree to supply signals in west Kao.

Fortunately in one of the villages in west Kao, namely Soamaetek village, there is a damaged inactive mini signal solar-powered transmitter tower. Yayasan Tangan Pengharapan di Halmera funds the installation of new equipment to reactivate the signal transmitter. The tower is repaired and reactivated by connecting the electricity from PLN tower so that the tower can activate signals in communication tool. The power of this signal transmitter is quite strong, and it reaches up to 5 villages around the tower.

Now the local societies can take the advantage of the transmitter tower because many of them have relatives outside the west Kao and Halmahera. Some of them migrate to find a job, and some others go to college in Tobelo, Ternate, Manado or other cities in Indonesia.Theofilus

Video Children Rescue Home Bali:




Selasa, 01 Juli 2014

Menuju NTT Sehat dan Berdaya

http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/


in/Berbagai upaya dilakukan Tangan Pengharapan untuk membawa masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat di NTT agar keluar dari kemiskinan, di antaranya melalui program pemberdayaan masyarakat. Di samping itu, Tangan Pengharapan juga melakukan program pengobatan gratis dan penyuluhan mengenai kesehatan agar masyarakat dapat hidup sehat.


Di minggu terakhir bulan Mei 2014 silam, Tangan Pengharapan kembali mengadakan event pengobatan gratis bagi masyarakat di Timor Tengah Selatan, NTT. Dalam event kali ini, selain dilakukan pengobatan gratis untuk para penduduk setempat, juga dilakukan pembagian beras sebanyak 4 ton sebagai incentive bagi para penduduk yang selama ini menanam bibit sayuran yang diberikan oleh Tangan Pengharapan.

Pengobatan gratis kali ini dilangsungkan selama dua hari berturut-turut mulai dari tanggal 25 sampai 26 Mei 2014, yang diawali dengan pengobatan bagi penduduk desa Nasi yang dimulai pukul 11.00 waktu setempat dan kemudian dilanjutkan ke desa Tliu yang dimulai pada pukul 15.00 sampai 19.00 waktu setempat. Dalam pengobatan gratis hari pertama ini sebanyak 300 pasien mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan dan obat-obatan bagi mereka yang sakit.

Selanjutnya pada keesokan harinya, Tangan Pengharapan kembali mengadakan pengobatan gratis. Kali ini event ini dilakukan di dua desa, yaitu desa Boti dan desa Ofu, Kolbano. Program pengobatan gratis yang dilangsungkan dari pukul 9.30 hingga pukul 13.00 waktu setempat di desa Boti dan dilanjutkan pukul 14.30 hingga pukul 19.00 di desa Ofu, Kolbano, sebanyak 500 pasien mendapatkan layanan pengobatan ini. Adapun jumlah keseluruhan pasien yang mendapatkan layanan pengobatan yang dilangsungkan selama dua hari ini berjumlah 700 pasien.

Program pengobatan gratis ini dibantu oleh satu orang dokter lokal dan satu orang dokter dari Perth, Australia. Pengobatan ini merupakan pengobatan kedua bagi dokter Harliman dari Perth, Australia. Keinginannya untuk membantu program pengobatan Tangan Pengharapan bagi masyarakat di Timor ini muncul setelah kunjungannya dalam program yang sama beberapa waktu silam ke TTS, NTT. Menurut dokter Harliman hal yang memotivasi dirinya untuk kembali datang adalah karena keinginannya untuk berbagi. “Berbagi dengan rekan-rekan yang kurang beruntung akan membangkitkan kebahagiaan tersendiri. Dan itulah yang memotivasi saya,” jelasnya.

Selain melakukan pengobatan gratis, Tangan Pengharapan juga membagikan 4 ton beras gratis sebagai incentive kepada penduduk yang selama ini setia menanam bibt sayuran yang diberikan Tangan Pengharapan. Adapun bibit sayuran ini diberikan untuk menopang hidup penduduk sehingga mereka secara bertahap akhirnya dapat memenuhi kebutuhan sendiri dan bahkan bisa menjual hasilnya untuk membeli keperluan sehari-hari.

Dalam kesempatan ini Tangan Pengharapan juga memberikan bibit sayur mayur untuk beberapa desa, di antaranya  desa Nasi dusun C, 124 KK; Tubleu, 120 KK, Mnela anen, 25 KK, dan desa Tliu, 170 KK.

Diharapkan dengan diberikannya bibit sayuran ini, masyarakat makin giat bercocok tanam sehingga akhirnya mereka kelak dapat berdikari dan dapat keluar dari perangkap kemiskinan.Adolf Silubun


en/Tangan Pengharapan keeps doing many efforts to bring Indonesian people, especially those who live in NTT out of poverty, and one of them is empowering the local people. In  addition to that, Tangan Pengharapan holds free medical and counseling programs on health in order to make them live a healthier life.



In the last week of May 2014, Tangan Pengharapan held another free medical program for the people living in Timor Tengah Selatan, NTT. In this event, besides a free medical program for local villagers, Tangan Pengharapan distributed 4 tons of free rice as an incentive to the local people who planted the seeds of vegetables given by Tangan Pengharapan.


This time the free medical program was held two days in a row, commencing from May 25 to 26, 2014.  In the first day, the free medical program was held for Nasi villagers. The event started at 11 AM – 02 PM local time and then was moved to Tliu village at 03 PM to 07 PM local time. In the first day of free medical program, 300 patients underwent medical check up and those who were sick got some medicine.


In the following day, Tangan Pengharapan held another free medical program in two villages, namely, Boti and Ofu, Kolbano. In Boti village, this free medical program started at 9.30 AM and finished at 1 PM and then was continued in Ofu village, Kolbano. Here the program started at 2.30 PM and finished at 7 PM. as many as 500 patients took part in this program. During the 2 day free medical program, totally 700 patients got medical service.


Two doctors took part in this free medical program held by Tangan Pengharapan. They were Dr. Silvana Benny from SoE Hospital, NTT and Dr. Harliman from Perth, Australia. His desire to take part in Tangan Pengharapan’s free medical program for the people in NTT begun after his participation in the same program held some time ago in TTS, NTT.


According to Dr. Harliman the thing that motivated him to come again was his wish to share. “Being able to share with our impoverished friends will bring some happiness, and that is what motivates me,” explained.


In addition to free medical program, Tangan Pengharapan also distributed 4 tons of free rice as an incentive to local people who plant vegetable seeds given by Tangan Pengharapan. The vegetable seeds were given to sustain their life so that gradually they could meet their own needs and sell the crops to buy their daily needs.


In this occasion, Tangan Pengharapan also distributes vegetable seeds to some villages, among them were hamlet C of Nasi village, 124 families; Tubleu village, 120 families; Mnela Anen village, 25 families; and Tliu villages, 170 families.

Receiving the vegetable seeds, local people are expected to more industriously do planting so that they will become independent and will be able to get out of the trap caused by poverty.Adolf Silubun


Video Children Rescue Home Bali: