Rabu, 16 April 2014

YTP Mobile Clinic


http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/

in/Banyak penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan diobati justru memberikan beban tersendiri bagi masyarakat di Nusa Tenggara Timur. Sebagian besar penyakit yang sebenarnya telah diberantas ternyata masih memberikan dampak besar pada masyarakat yang hidup dalam kemiskinan.

Misi utama poyek Mobile Clinic ini pada dasarnya adalah memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat yang tinggal di pedalaman NTT dan tidak memiliki akses untuk mendapatkan layanan kesehatan.

Mobile Clinic YTP dilengkapi dengan fasilitas pengujian dan pemeriksaan kesehatan agar pasien mendapatkan layanan medis yang tepat guna dan efisien. Mobile Clinic YTP ini kini akan dapat dioperasikan sepenuhnya. Proyek Mobile Clinic ini dirancang untuk dapat secara proaktif memberikan vaksinasi serta pengobatan untuk berbagai penyakit yang dapat diobati.
Mobile Clinic ini dapat berpindah tempat tanpa kesulitan sehingga dapat menjangkau lebih banyak pasien.

Latar Belakang: Pemberantasan berbagai penyakit yang sebenarnya dapat dicegah sangat bergantung pada pembangunan kapasitas dan sistim untuk memberikan tindakan pengobatan serta layanan kesehatan masyarakat secara efektif. Salah satu kendala yang dihadapi oleh masyarakat di Timor ini adalah kurangnya fasilitas kesehatan.

en/Preventable and treatable diseases present an enormous health brunt for communities in NTT. Diseases that have largely been eradicated still have immeasurable impacts on populations living in extreme poverty.

The primary mission of the Mobile Clinic is to deliver basic primary healthcare to people living in rural areas in NTT that have little or no access to healthcare.

YTP Mobile Clinic will be properly equipped with full medical testing and examination facilities that will facilitate the delivery of effective and efficient medical care. The YTP mobile clinics will come fully operational. Our Mobile Clinic project is designed to deliver a pro-active approach in providing life-saving vaccinations and provide treatment for basic treatable diseases.

The mobile clinic  has the capacity to relocate without difficulty, allowing for increased patient care coverage.
Background: The elimination of preventable diseases is highly dependent on capacity and systems building to effectively deliver basic primary care and public health services. One of the many obstacles faced by these Timorese is the lack of medical facilities.



Senin, 14 April 2014

Andi, You Don’t Need To Go To Forest For Food…


Tak Perlu Lagi Ke Hutan Untuk Cari Makanan, Andi…

http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/


in/Lahir dalam keluarga yang berkekurangan, Andi Dimi, 4 tahun, sering menghabiskan hari-harinya di hutan untuk membantu orangtuanya dan mencari sesuatu untuk dimakan. Hanya itulah variasi menu yang dia makan karena kadang dia bosan makan ubi kayu atau sagu. Hal ini memaksa keluarganya untuk pergi ke hutan guna mencari variasi menu untuknya.

Saat usianya menginjak 2 tahun, ibunya meninggalkan dia untuk selamanya setelah melahirkan adiknya. Karena ketiadaan biaya untuk membawa ibunya ke dokter, ayahnya malah membawanya ke dukun dan dukun tersebut memberikan jamu-jamuan tradisional. Bukannya membaik, pendarahan yang dialaminya semakin parah hingga akhirnya dia meninggal.
 
Sebagaimana adat istiadat orang Papua, ketika seorang isteri meninggal, harus diadakan ritual pemotongan jari. Tapi karena usia ayahnya yang sudah tua, maka diputuskan untuk memotong jari telunjuk Andi sebagai anak tertua. Ini dilakukan karena Andi adalah satu-satunya anak laki-laki yang akan menggantikan posisi ayahnya.

Ayahnya sadar dirinya terlalu tua untuk bisa mengurus Andi, sehingga dia menitipkan Andi pada pamannya yang hidup berkekurangan. Oleh karena keadaan yang dialami pamannya, akhirnya pamannya menitipkan Andi di Children Rescue Home Tangan Pengharapan di Jakarta melalui isteri pimpinan.

Sekarang di Children Rescue Home Tangan Pengharapan di Jakarta, Andi tidak perlu lagi mencari makanan untuk bertahan hidup. Di sini setiap hari dia selain mendapatkan makanan, juga bisa mendapatkan pendidikan. Semua ini bisa terwujud berkat kepedulian mereka yang mengasihi anak-anak seperti Andi. 

en/Born to a poor family, Andi Dimi, 4 often spent his days in the forest nearby, helping his parents and looking for some fruit to eat. It was the only variation of menu he had to make because sometimes he got bored eating his staple food such as cassavas or sago and the family had to get to the forest to get it.

When Andi was 2, his mother left him forever. She had hemorrhage after giving birth to his youngest sibling. Because his father had no money to bring his mother to a doctor, instead, he took her to a shaman and the shaman gave her just traditional herbal medicine. Instead of getting better, her hemorrhage was getting worse and finally she died.

As their custom and tradition, when a wife dies, they must make a kind of ritual of cutting finger. Because of his father’s old age, so they Andi cut Andi’s index finger. They did this because Andi is the only boy who is supposed to take his father’s place.

His father knows that he is too old to take care of him, and so he entrusted Andi to live with his poor uncle. And because of poverty, his uncle entrusted YTP Children Rescue Home Coordinator’s wife to bring Andi to Pondok Kasih Orphanage.

Now in Pondok Kasih Center, Andi doesn’t have to look for food in order to survive anymore. Here he gets nutritious meal everyday and education. And every 3 months, he has free medical check up. All of these are made possible with the care of those who love children like Andi.
 




Sabtu, 12 April 2014

Malaria Attacks My Nerve System



Malaria Menyerang Sistim Sarafku


in/Saat tiba  di  kampung  weeboro,  anak-anak  menyerbu  menyambut kehadiaran kami. Setelah melayani begitu banyak sapaan dan jabatan tangan hangat anak-anak, kami menyadari ada seorang anak perempuan yang duduk diam di pojok rumah adat. Ia hanya memandangi kami dari kejauhan. Kami meminta seorang ibu untuk memanggilnya. Jeni Baragole namanya, ia berumur 9 tahun. Jeni datang menghampiri kami di temani ibunya, ibu Magi Diala.
Ternyata Jeni adalah anak dari ketua RT setempat, Bapak Ngawlu Bekaniga yang memberikan rumahnya untuk menjadi Feeding & Learning Center Tangan Pengharapan di kampung Weeboro ini.
Saat kami menjabat tangan & bertanya namanya, Jeni menjawab dengan bergumam. kami kira ia hanya pemalu, ternyata Jeni mengalami kesulitan berbicara. Ketika Jeni baru berusia 5 bulan ia terkena Malaria Falciparum. Jenis malaria ini adalah yang paling berbahaya dari jenis malaria lainnya. Malaria Falciparum sering kali berakhir dengan kematian, jika penderita selamat sering kali terjadi gangguan syaraf otak yang dapat menimbulkan berbagai penyakit syaraf. Jeni selamat dari Malaria Falciparum dan  sampai usia 7 tahun Jeni tumbuh normal sama seperti anak-anak seusianya. Suatu hari di usianya yang ke tujuh, Jeni mengalami demam sangat tinggi hingga tubuhnya kejang-kejang dan tidak sadar. Setelah dirawat di rumah sakit beberapa lama, karena tidak ada uang untuk biaya rumah sakit Jeni di bawa kembali kerumah. Sejak saat itu lambat laun Jeni semakin kehilangan kemampuan berbicara dan kecerdasannya turut menurun.
Saat ini diusianya yang ke sembilan Jeni tidak dapat mengucapkan  kata-kata dengan jelas. Walau mengerti saat diajak bicara, Jeni kesulitan untuk menjawab. Kecerdasannya juga menurun, ia sekarang bertingkah laku seperti anak berumur 5 tahun. Ia tidak dapat bersekolah. Keluarganya takut Jeni diganggu anak-anak lain dan  melarangnya  keluar  rumah.  Belum lagi sakit panasnya masih berulang dan sekarang perutnya membesar. Karena tidak adanya biaya maka Jeni tidak pernah di periksa secara detail dan tidak ada pengobatan untuknya sampai saat ini.
Yayasan Tangan Pengharapan akan membantu membawa Jeni ke Rumah Sakit untuk di periksa lebih lanjut, mendapat pengobatan yang baik dan terapi yang diperlukan. Dan dengan  hadirnya  Feeding &  Learning  Center  tangan  pengharapan di kampung Weeboro, Jeni dapat belajar sesuai dengan kebutuhannya dan curahan kasih para guru dan koordinator tentunya akan memberi harapan bagi Jeni dan keluarganya.


en/Arriving at Weeboro village, Children were running to welcome us. Greeting them and shaking their hands, we eventually noticed a little girl sitting at the corner of a traditional house. She was glancing at us from a distance. We then asked a lady to call her. She was Jeni Baragole and she was only 9. Jeni, then, came to us accompanied by her mother, Magi Diala.

It turned out that Jeni was a daughter of the local community leader, Mr. Ngawlu Bekaniga who gives his house to be used as Tangan Pengharapan Feeding & Learning Center in this Weeboro village.

When we shook her hands and asked her name, she murmured. We thought he was only shy, but it turns out that Jeni has dysarthria. When she was 5, Jeni suffered from falciparum malaria. This kind of Malaria is the most dangerous one. 
The sufferer of falciparum malaria often ends up with death. Is the sufferer survives, he/she often has various nerve disorders. Jeni did survive from this kind of malaria. Until she was 7, she grew up as normal as those at her age. One day in her 7th age, she had extremely high fever that her body was stiffened and she became unconscious. After being hospitalized for some time, Jeni was brought home because of no finance. Since then Jeni began to lose her ability to speak and her intelligence decines. 
In her 9th age now, Jeni can’t say words clearly. Though she understands ever words spoken, Jeni has some difficulty to answer. Her intelligence does decline. She acts like a 5 year old kid. It’s impossible for her to go to school. Her family doesn’t want other kids to mock her, so she’s not allowed to go out. Her body’s temperature is often high and her stomach gets bigger. Due to no finance, Jeni is never examined in detail and there has been no any medical treatment for her until now.
Yayasan Tangan Pengharapan will take Jeni to a hospital for further medical examination that she can get medical treatment and therapy she needs. With the existence of Tangan Pengharapan Feeding & Learning Center in Weeboro, Jeni can study properly and the Center’s coordinator and teachers’ compassion brings hope to Jeni and her family.