Selasa, 10 Juni 2014

Ince: To get healed, water must be injected into your stomach

http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/



in/Sudah tentu anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran sosok seorang ayah mengalami banyak resiko yang lebih besar dalam enghadapi tantangan-tantangan hidup daripada mereka yang memiliki figure ayah. Tanpa kehadiran seorang ayah yang melindungi dan memberikan rasa nyaman kepada mereka, mereka sering menjadi target dari berbagai tindak kekerasan, pelecehan seksual, dan bahkan perdagangan manusia.


Peristiwa ini terjadi pada April 2012. Di ruang kelas, Naomi Ince Leba, siswi kelas 2 sebuah SMU di Denpasar duduk sambil memegang dadanya yang terasa sakit. Sepertinya ia menderita sakit di dadanya. Dan penyakit ini sering ia rasakan. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain meringis kesakitan. Akhirnya ibunya yang karena kekurangan biaya, membawanya ke seorang tukang jampi, Alex Bonimata, yang juga adalah seorang pegawai negeri sipil dan anggota majelis sebuah gereja. Ibunya membawa Ince ke sana bukan tanpa alasan. Ibunya memercayai Alex Bonimata karena selain menjadi anggota majelis, ia juga adalah pegawai negeri sipil.

Alex membawa gadis kelahiran 6 November 1996 ini ke kamar di mana ia biasa mengobati para pasiennya. Saat pertama kali dibawa ke kamar prakteknya, Alex ditemani isteri dan anaknya. Sedikitpun tidak ada rasa curiga karena selain Ince (sapaan akrab Naomi Ince Leba) masih kecil, Alex merupakan anggota majelis yang menjadi panutan di jemaat, apalagi Alex juga adalah seorang pegawai negeri.

Pemeriksaan pertama berlangsung normal. Alex hanya memegang dan memeriksa bagian yang sakit saja. Pemeriksaan ini berlangsung tiap bulan sampai bulan September 2012.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, menurut Alex, ada racun yang masuk ke bagian perut dan racun itu hanya bisa dinetralisir dengan memasukkan air ke dalam perut. Bulan Oktober 2013, petaka itu pun muncul. Alex meminta Ince datang. Di kediamannya itu, saat anak dan isterinya tidak ada di rumah, Alex pun melakukan aksinya. “Supaya air bisa masuk ke perut, dia (Alex) memberitahu caranya, yaitu dengan melakukan hubungan badan. Karena racun ini kuat, maka setiap minggu dia bilang harus dimasukkan air ke perut,” ujarnya. Perbuatan Alex ini dilakukan hingga April 2013.

Bukannya sembuh, ternyata “air”yang dimasukkan Alex ke dalam perut Ince justru membuat perutnya semakin “membengkak”. Ince pun mengandung hingga akhirnya pada tanggal 27 Juli 2013 lahirlah bayi perempuan yang kemudian diberi nama Yemima Hervika Bulu.

Setiap nenek tentu akan bahagia menyambut kelahiran cucunya. Tentu mereka akan mempersiapkan yang terbaik untuk bayi yang baru dilahirkan itu. Namun berbeda dengan ibunya. Karena rasa bersalah, malu dan tertekan, akhirnya ia jatuh sakit. Tepat dua minggu setelah cucunya itu dilahirkan, ibunyapun menghembuskan nafas terakhirnya. Ince yang baru melahirkan harus merasakan kehilangan kasih sayang ibunya. Tanpa kehadiran ayah dan ibu serta usianya yang memang belum cukup, ia harus hidup sendirian bersama seorang bayi yang baru dilahirkannya dan diberi makan hanya 1 kali dalam sehari.

Peristiwa pahit yang dialami Ince karena ketidak tahuannya seakan tidak mau berakhir. Setelah ditinggal oleh ibu yang melahirkannya untuk selamanya, Alex, yang merupakan ayah biologis dari anak yang dilahirkannya tidak mau mengakui perbuatannya. Bukan hanya itu, ketidak peduklian Alex pada kehidupan Ince dan anaknya membuat Ince harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dan anaknya. Di usia yang masih belia, tanpa ayah dan ibu, tanpa sanak saudara, Ince menjalani hari-harinya hanya dengan anaknya, sambil mengharapkan belas kasih dari orang.

Pahitnya hidup yang dijalani Ince bersama anaknya membuat Tangan Pengharapan tersentuh. Akhirnya Ince dan anaknya ditampung di Children Rescue Home Tangan Pengharapan di Bali. Di sinilah Ince dapat dengan tenang menjalani hidupnya, tanpa perlu bersusah payah memikirkan kebutuhan anaknya. Lewat orang-orang yang peduli pada hidupnya, Ince dan anaknya bisa terselamatkan. EkoJohny


en/There is no question that children who grow up in fatherless homes have a much greater risk of major challenges in life than those who grow up with a father at home. Without a father protecting them and giving them comfortable feeling, they often become targets of violence, sexual harassment, human trafficking.


This happened on April 2012. In her classroom, Naomi Ince Leba, a 12th grader was sitting, painfully touching her chest. It seemed she got pain in her chest. She had this kind of pain so often. She could do nothing with the pain but grimacing in pain. Eventually, her mother, due to lack of finance, took her to a shaman who was a civil servant and a church council named Alex Bonimata. Her mother took her there with a reason. She trusted Alex Bonimata because he was a church council and a civil servant.

Alex took this girl who was born on November 6, 1996 into his room where he used to give his patients herbal treatment. The first time he took Ince there, Alex was accompanied by his wife and daughter. There was nothing fishy going on, because besides Ince was just a kid, Alex himself is a member of church council admired by believers and he was a civil servant too.

The first physical examination went on normally. Alex only touched the painful part of her body. This examination was done every month through September 2012.

According to Alex, based on the diagnose he had made, there was some kind of poison in her stomach and it could be neutralized only by ‘injecting’ some water into her stomach. On October 2013, the unexpected thing happened. Alex asked Ince to come to his home. At his home, when his wife and daughter were not there, Alex did the thing we wanted to do. To inject water into her stomach, Alex told her that she needed to have a carnal knowledge. “Because the poison was strong, so every week I had to inject some water into your stomach,” he explained. And Alex did the thing until April 2013.

Instead of being healed, in fact, the waster injected by alex into Ince’s stomach made it got more “swollen”. Ince got pregnant! And on July 27, a baby girl was born and Ince named it Yemima Hervika Bulu.

Every grandmother would surely welcome the birth of her granddaughter. They certainly would prepare the best thing for the new born baby. But her mother was not like other grandmothers. Guilt, shame and feeling depressed made her sick. Two weeks after her granddaughter was born, she took her last breath. Ince who was just gave birth to her baby girl had to lose her mother’s love and compassion. Without both her parents and in her young age, she has to live alone with a new born baby who she feeds once a day.

The bitter things that happened to Ince due to her nescience seemed to never reach their end. After her mother left her forever, Alex, the baby’s biological father would not admit what he had done. Not only that, Alex’s indifference of Ince and her baby forced her to strive for their basic needs alone. In  her young age, without her mother and father, without any relatives, Ince lived her days, hoping for people’s mercy.

The bitter life Ince and her baby live makes Tangan Prngharapan moved. Eventually both Ince and her baby are resettled in Tangan Pengharapan Children Rescue Home in Bali. Here Ince can live her life peacefully, no need for her to think about her baby’s need. Through the people whop care for their life, Ince and her baby can be saved.EkoJohny




Kamis, 05 Juni 2014

Though they are marginalized, they are still Indonesians

http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/
http://www.tanganpengharapan.org/sumbangan-untuk-projek-kami/


in/Sore itu, ketika sedang menikmati keindahan matahari sore, saya melihat 2 orang gadis kecil berumur sekitar 7 atau 8 tahun yang menenteng 2 kantong plastik. Keduanya tidak memakai alas kaki, sedang berjalan menyusuri pinggiran toko-toko di jalan Mandala, dan mengais-ngais sesuatu di antara tumpukan sampah. Saya bertanya, “Kalian cari apa?” Gadis yang lebih tinggi itu menjawab, ”Mencari kaleng dan botol air minum VIT”. Maklum, di depan toko-toko itu banyak orang lalu lalang dan tak jarang mampir untuk sekedar membeli air mineral atau coke. Itulah sebabnya, sering ada botol dan kaleng-kaleng bekas  yang dibuang di pinggiran jalan itu atau pada beberapa kotak tempat sampah.  Kedua gadis itu, mendapatkan beberapa kaleng dan botol plastik di sana. Salah seorang di antaranya dengan sedikit berlari menyambar sebuah dus bekas yang ada di depan toko berikut dan kemudian dengan cekatan dibuka dan dilipatnya. Keduanya adalah anak asli Papua, belakangan saya tahu namanya Liansu dan Maria. Meskipun masih kecil, mereka sudah menjadi pemulung.

Pikiran dan perasaan saya tidak berhenti pada apa yang Liansu dan teman-temannya kumpulkan, tetapi mula-mula pada kaki mereka yang menyusuri jalanan tanpa alas kaki. Kalau kaki mereka menginjak pecahan kaca, apa yang mereka peroleh sore itu tidak sebanding dengan kerugian / cedera yang mereka alami. Pertanyaan berikutnya yang muncul di benak saya adalah kaleng-kaleng dan botol-botol plastik itu mau dijual ke mana karena hari sudah sore?  Kalau tidak berhasil menjualnya, mereka malam itu makan apa ? 

Ternyata bukan hanya kedua gadis itu yang terpantau. Ketika sudah hampir mendekati pelabuhan Merauke, saya melihat 2 anak laki-laki yang membawa karung plastik sedang memungut gelas-gelas plastik yang dibuang di pinggir jalan.  Beberapa bulan sebelumnya, salah seorang rekan saya malah sempat berfoto bersama mereka. Wajah-wajah mereka menunjukkan bahwa itulah realita kehidupan yang harus mereka jalani setiap hari.  

Entahlah apa yang  berkecamuk di hati mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang tersisih dan terpinggirkan di kampung halaman mereka sendiri sejak masih kanak-kanak. Bahkan Liansu hanyalah seorang anak yatim piatu yang sekarang tinggal bersama saudara jauhnya. Sebagai manusia, Liansu juga ingin makan kenyang dan bergizi, minum minuman yang segar dan bervitamin, bisa sekolah dan bergaul dengan masyarakat luas. Saya yakin, tidak ada seorang pun di dunia ini yang bercita-cita menjadi pemulung, pengemis, buruh kasar di pelabuhan dan sebagainya meskipun apa yang mereka kerjakan adalah halal. 

Saya dan suami berkesempatan melihat langsung pemukiman Liansu dan teman-temannya. Saat itu saya ingat betul, pertama kali kami datang pada pertengahan bulan Maret 2012. Dengan membawa 7 tas plastik besar berisi beras 5 kg, gula, mie instant dan perlengkapan mandi. Saya masih ingat betul ekspresi mereka yang sangat senang menyambut kami. Kami berdoa bersama, menyanyi bersama dan bertukar cerita tentang kehidupan, yang bagi mereka sedikit terasa lebih berat…..

Kaum pria di pemukiman ini umumnya bekerja sebagai buruh kasar di pelabuhan, sedangkan kaum wanitanya bekerja serabutan, kadang sebagai kuli cuci. Mereka harus berangkat pagi-pagi benar dan pulang setelah matahari terbenam, meninggalkan anak-anak mereka sendirian tanpa sedikitpun makanan. Mereka hanya bisa berkumpul dengan keluarga hanya di sore hari usai pulang kerja untuk makan seadanya bersama.

Itulah sebuah potret realita dari kehidupan sebagian anak-anak  asli yang makin hari makin sulit mewujudkan masa depan yang lebih cerah. Untuk hidup hari ini pun, mereka harus kerja keras dan penghasilan mereka juga tidak seberapa. Bagaimana mungkin mereka berpikir tentang sekolah, tentang kesehatan mereka?  Kalau jumlah mereka makin banyak, itu merupakan indikator bahwa ada banyak anak dari masyarakat lokal yang betul-betul miskin - (miskin pendidikan, ketrampilan, pergaulan, jaringan kerja, pelatihan dan sebagainya). Hal tersebut pada gilirannya akan menunjuk pada suatu realita bahwa ada begitu banyak keluarga / warga masyarakat lokal yang tidak berdaya menghadapi badai perubahan dan pembangunan yang terjadi di wilayah mereka. 

Menyalahkan masa lalu, menganggap bahwa masyarakat lokal itu malas dan hanya mau enaknya saja, dan berdebat tentang dana-dana yang besar di wilayah ini, menurut saya tidak akan pernah membawa kemajuan. Yang diperlukan saat ini membangun manusianya, bukan fisiknya.

Tergerak menyaksikan keterpurukan hidup yang dialami anak-anak itu, kami awalnya mengadakan kelompok belajar yang diadakan setiap hari Selasa, Rabu dan Kamis di rumah seorang penduduk lokal bernama ibu Herlina. Beliau sendiri terlibat sebagai pengajar inti. Dan bukan hanya mengajar baca tulis dan berhitung, kami juga memberi mereka makan sekedarnya supaya perut tidak kosong dan bisa berkonsentrasi untuk belajar.  Hal ini sudah berjalan  +  1 tahun.  Bukan tanpa masalah, tetapi Tuhan dengar doa kami melalui pertemuan dengan Pak Yoanes Kristianus dari Yayasan Tangan Pengharapan.  Ini benar-benar membawa harapan besar bagi Liansu dan teman-temannya. Sekarang kalau bertandang ke rumah Liansu, kadang-kadang kita bisa melihat Liansu mengajar anak-anak lain yang jauh lebih kecil untuk mengenal huruf di kolong rumah panggungnya. Menyentuh sekali…. Kami hanya bisa bersyukur melihat semua ini, sekalipun perjalanan hidup masih cukup panjang bagi Liansu dan teman-temannya. Meskipun terpinggirkan, mereka tetap Indonesia.


en/That evening when I was enjoying the beautiful evening sunset, I saw 2 girls aged about 7 or 8 were carrying 2 plastic bags. Barefooted, both of them were walking down the street by the stores in Jalan Mandala, digging for something in piles of garbage. I began to ask them; “What are guys you looking for?” The taller girl said, “We’re looking for cans and VIT mineral drinking water plastic bottles.” Because in front of those stores many people were passing through and some of them would drop by to buy some mineral water or coke and they threw cans and plastic bottles nearby. And the 2 girls could easily find the used stuffs there. One of them ran to grab a piece of used cardboard and folded it quickly. They were both native Papuans. Recently I noticed that they were Liansu and Maria.

I didn’t stop only to think about what Liansu and her peers were collecting, but at first I began to look at their feet with on they walked through the street without any footwear. Should they trample on broken glass, what they managed to collect this evening was not compatible with the wounds they had. The next thought that came across my mind was ‘where are they going to sell all that stuffs when the evening comes? If they fail to sell them, what are they going to eat tonight?’

Actually not only the 2 girls that I noticed. Approaching the port of Merauke, I saw 2 boys were carrying plastic bags, picking up plastic glasses thrown along the side road. Few months before a friend of mine had a chance to take some pictures together with them. Their faces show that is the reality of life they must live each day.

I have no clue what is on their minds. They have been excluded in their own hometown since their childhood. And Liansu is an orphan who lives with her distant relative. As a human, Liansu surely wants to have sufficient food and nutrition, enjoy fresh drink, go to school and associate with the society. I’m quite sure no one in this world wishes to be a scavenger, a beggar, a hard labor working in ports and so on even though what he does is religiously permitted. 

Accompanied by my husband, I visited the residential where Liansu and her peers live. I remember we paid our first visit on March 2012, carrying 7 big plastic bags containing 5 kg of sugar, instant noodles, and toiletries. I still remember quite well of their happy faces welcoming us. We prayed and sang together and shared the stories of life which a little bit harder on them.

Men here generally are hard labors in local port while women here are odd job workers who sometimes act as washerwomen. They must leave early in the morning and return home after sunset, leaving their children at home with no food at all. They can only enjoy their family time in the evening after work to have meal together.

That is the portrait of the real life of some native Papuan children that day by day get more and more difficulties to make their brighter future come true. To live for today, they must work hard and the money they make is insufficient. How come they ever think about going to school, about their health? If they are more in numbers, it indicates that many local children are extremely poor – (poor in knowledge, skill, social interaction, networking, training etc.) In turn it will show a shocking reality that so many local families/societies are unable to face the storm of change and development in their own region.

Blaming the past, thinking that local people are lazy and only want good things without hard work and arguing on big funds in this region, in my opinion, will never make any progress. The only thing needed for this time being is to build their mentality, not their physical body.

Seeing the slumped life these children live, we began to hold a study group on Tuesday, Wednesday and Thursday in Mrs. Herlina’s house, a local resident. Mrs. Herlina herself is a main teacher. Besides reading, writing and math, we also give them meal to make their stomachs full so that they can concentrate on the subject taught and it has been going on for more than a year. It doesn’t mean we have no obstacles. God heard our prayer. We met Ps. Yoanes Kristianus from Yayasan Tangan Pengharapan. It really bring a big new hope for Liansu and her peers. Now when we visit her in her home, we sometimes find Liansu teaching other children the alphabets under her poor stilt home. It is so touching, indeed. Seeing all this, we can only be grateful, although their journey of life is still long way to go. although they are marginalized, they are still Indonesians.