Selasa, 22 April 2014

Mahesa: We Have Had No Meal For 2 Days…

http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/

in/Rasa ingin tahu guru di Feeding and Learning Center Tangan Pengharapan terjawab sudah. Di siang itu, saat anak-anak datang untuk belajar dan bermain, muncullah Mahesa bersama kakaknya ke Center Tangan Pengharapan. Wajah mereka tampak pucat. Saat ditanya mengapa, mereka menjawab dengan lirih, “ Kami sudah dua hari tidak makan. Mbah hanya punya beras 1 gelas dan beras itu dibuat bubur untuk diberikan kepada adik yang masih bayi.”

Di gubug kecil berukuran 5 x 7 meter itulah Mahesa Pratama,8 tinggal. Bukan hanya dirinya, tapi juga ada 3 keluarga yang menempati rumah kecil pengap dan berlantaikan tanah.

Lahir di luar ikatan perkawinan yang sah, Mahesa ditinggal ibunya, Menik, yang menikah lagi dengan lelaki lain. Rupanya keempat anak yang dilahirkan Menik memiliki ayah biologis yang berbeda. Dan kini ia tinggal di desa tetangga. Mahesa bersama 3 saudaranya dititipkan pada neneknya, Mbah Win, yang hidup berkekurangan.

Akibatnya, neneknya yang sudah renta harus bekerja sebagai buruh atau di ladang demi menghidupi cucu-cucunya itu. Untuk bisa makan, neneknya yang tua itu bergantung pada permintaan orang untuk mempekerjakannya. Tidak jarang Mahesa bersama ketiga saudaranya hanya makan sekedarnya 1 hari sekali. Bahkan pernah mereka tidak makan dalam beberapa hari lantaran tidak ada orang yang mau mempekerjakan Mbah Win.

Akibat kurangnya asupan gizi, Mahesa yang saat ini menduduki bangku kelas 2 Sekolah Dasar baru bisa mengeja huruf. Ini berkat kesabaran dan ketelatenan guru yang secara khusus memberikan perhatian kepadanya termasuk kepada anak-anak lain yang membutuhkan perhatian lebih.

Itulah sebuah potret realita dari kehidupan sebagian anak-anak yang makin hari makin sulit mewujudkan masa depan yang lebih cerah. Untuk makan saja mereka hanya bisa mengandalkan orang yang sudah tua. Bagaimana mungkin mereka berpikir tentang sekolah, tentang kesehatan mereka?  

Mereka itu adalah orang-orang yang tersisih dan terpinggirkan di kampung halaman mereka sendiri. Sebagai manusia, mereka juga ingin makan kenyang dan bergizi, minum minuman yang segar dan bervitamin, bisa sekolah. 

Melihat hal ini, Tangan Pengharapan berrencana mengadopsi dan membiayai sekolah mereka hingga SMA. Untuk saat ini Center Tangan Pengharapan di desa Pepe membantu mereka dalam hal gizi dan pendidikan.

en/The teacher’s curiosity at Tangan Pengharapan Feeding & Learning Center was satisfied. That afternoon when other children came to the Center to learn and play, Mahesa and his sister appeared in Tangan Pengharapan Center. Their faces looked pale. Asked why, softly they answered, “We have had no meal for 2 days. Our grandma only has a glass of rice and she makes porridge out of it to feed our baby brother.”

In the 5 x 7 meter poor house Mahesa Pratama, 8 lives. Besides himself, there are 3 other families living in the small airless and floorless house.

Born out of illegal wedlock, his mother left him and remarried to another man. It seemed all her four children have different biological fathers. Now his mother lives in a neighboring village. Mahesa and three his siblings are entrusted to live with their poor grandmother, Win.

As a result, his old grandmother has to work as a labor or in fields to support her grandchildren. To have something to eat, his grandmother depends on people to hire her. It is quite often that they have once meal in a day. Yet, they even do not have any meal for several days because nobody hires their grandmother to work.

Lack of nutrition, Mahesa, a 2 grader of elementary, can only spell letters. Thanks to the Center teacher’s patience and integrity who gives special attention to him and other kids who need more attention.

It is a portrait of some children who day by day are having difficulties in realizing a brighter future. They can only depend on elderlies for meal. How can they think about going to school, about their health?

They are excluded and marginalized in their own hometown. As human beings, they certainly want to enjoy nutritious meal, fresh and vitamin contained drinks, and to be able to go to school. 

Seeing such thing, Tangan Penmgharapan plans to adopt and pay their school administration fee until they’re in senior high grade. For the time being, Tangan Pengharapan Center in Pepe village provides them nutrition and education.




Rabu, 16 April 2014

YTP Mobile Clinic


http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/
http://www.tanganpengharapan.org/donation/

in/Banyak penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan diobati justru memberikan beban tersendiri bagi masyarakat di Nusa Tenggara Timur. Sebagian besar penyakit yang sebenarnya telah diberantas ternyata masih memberikan dampak besar pada masyarakat yang hidup dalam kemiskinan.

Misi utama poyek Mobile Clinic ini pada dasarnya adalah memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat yang tinggal di pedalaman NTT dan tidak memiliki akses untuk mendapatkan layanan kesehatan.

Mobile Clinic YTP dilengkapi dengan fasilitas pengujian dan pemeriksaan kesehatan agar pasien mendapatkan layanan medis yang tepat guna dan efisien. Mobile Clinic YTP ini kini akan dapat dioperasikan sepenuhnya. Proyek Mobile Clinic ini dirancang untuk dapat secara proaktif memberikan vaksinasi serta pengobatan untuk berbagai penyakit yang dapat diobati.
Mobile Clinic ini dapat berpindah tempat tanpa kesulitan sehingga dapat menjangkau lebih banyak pasien.

Latar Belakang: Pemberantasan berbagai penyakit yang sebenarnya dapat dicegah sangat bergantung pada pembangunan kapasitas dan sistim untuk memberikan tindakan pengobatan serta layanan kesehatan masyarakat secara efektif. Salah satu kendala yang dihadapi oleh masyarakat di Timor ini adalah kurangnya fasilitas kesehatan.

en/Preventable and treatable diseases present an enormous health brunt for communities in NTT. Diseases that have largely been eradicated still have immeasurable impacts on populations living in extreme poverty.

The primary mission of the Mobile Clinic is to deliver basic primary healthcare to people living in rural areas in NTT that have little or no access to healthcare.

YTP Mobile Clinic will be properly equipped with full medical testing and examination facilities that will facilitate the delivery of effective and efficient medical care. The YTP mobile clinics will come fully operational. Our Mobile Clinic project is designed to deliver a pro-active approach in providing life-saving vaccinations and provide treatment for basic treatable diseases.

The mobile clinic  has the capacity to relocate without difficulty, allowing for increased patient care coverage.
Background: The elimination of preventable diseases is highly dependent on capacity and systems building to effectively deliver basic primary care and public health services. One of the many obstacles faced by these Timorese is the lack of medical facilities.